THE ADVENTURE OF DUSUN CATO

Pada hari senin tanggal 9 Juli 2018 kami kelompok KKN 193 mulai diterjunkan ke lapangan tepatnya di Desa Kemuningan, Kecamatan Taman Krocok, Kabupaten Bondowoso. Desa Kemuningan ini merupakan salah satu desa di Bondowoso yang terkenal akan adanya hasil ternak berupa lebah madu hutan. Selain itu ada beberapa hasil lainnya yang bisa di unggulkan di desa ini, seperti ternak hewan, pertanian, perkebunan, dan industri lainnya.  Pada minggu pertama seperti biasa kelompok kami harus melakukan beberapa survey di Desa Kemuningan. Seperti mendatangi setiap kasun-kasun yang ada di desa dan beberapa perangkat desa lainnya. Kelompok KKN 193 yang berjumlah 10 orang dibagi menjadi lima grup yang nantinya akan mengunjungi dusun yang ada di Desa Kemuningan. Desa Kemuningan memiliki tujuh dusun, yaitu dusun Krajan Timur, Krajan Barat, Nyabungan, Gumuk, Oloh, Gilir dan Cato.

Pada hari kamis, tanggal 12 Juli 2018 saya Ananda Patuh dan Bobig Arga melakukan survey di dusun yang paling terpencil di Desa Kemuningan. Dusun ini juga merupakan dusun terjauh dan yang paling susah ditempuh, karena dusun ini terletak di atas bukit. Perjalanan ke Dusun Cato memakan waktu kurang lebih satu jam dari rumah Kepala Desa Kemuningan. Kesan pertama kali kami saat menjumpai jalan ke arah Dusun Cato masih biasa-biasa saja, karena jalannya masih rata dan hanya jalan dengan tanah saja. Beberapa saat kemudian jalan mulai menanjak dan berbatu, tetapi belum begitu parah. Sampai di tengah jalan kami menjumpai pertigaan yang jika ke arah kiri menuju desa kretek dan ke arah kanan menuju Dusun Cato. Kami pun belok kanan untuk menuju Dusun Cato, jalan sudah mulai naik turun dan batu-batu mulai terlihat lebih besar dari sebelumnya. Tak lama ada jalan yang sudah dilapisi paving namun hanya sesaat karena hanya berjarak kurang lebih 100 meter saja, setelah itu jalan kembali berbatu. Jalan berbatu, liku-liku, kanan kiri pohon jati dan menanjak mulai menyambut kedatangan kami. Medan mulai ekstrem karena ada beberapa jurang terlihat di kanan dan kiri. Hanya dengan lebar jalan tidak lebih dari dua meter kami mulai menanjak,  dan tidak ada jalanan yang rata. Perjalanan masih jauh dan harus terus dilalui. Setelah istirahat sesaat kami melanjutkan perjalanan dan sampai di Dusun Cato Pukul 13.20.

Perjalanan yang sangat melelahkan karena medan yang ditempuh tidak seperti yang diperkirakan. Tetapi semua menjadi terbayar ketika kami terpana akan pemandangan yang indah dari atas bukit yang terlihat sangat menyejukkan mata bagi siapapun yang pertama kali berkunjung di dusun ini. Sesampainya kami di Dusun Cato kami langsung mencari rumah Bapak Kasun yaitu Bapak Nipan. Sesampainya dirumah Bapak Nipan kami melakukan beberapa wawancara mengenai Dusun Cato. Setelah itu kami melanjutkan survey ke rumah-rumah lainnya. Dusun Cato merupakan dusun yang memiliki kurang lebih 40 kepala keluarga. Mayoritas penduduk di Dusun Cato bekerja sebagai petani, peternak sapi dan madu. Setelah keliling di Dusun Cato ini kami menemukan beberapa anjing jinak di sekitar rumah warga berkeliaran dengan bebas. Awalnya kami kaget dan takut, tetapi setelah bertanya-tanya dengan warga sekitar anjing tersebut memang dipelihara yang dibutuhkan untuk menjadi penjaga kebun dan ternak dari warga. Lalu kami mencoba mampir di salah satu rumah warga di Dusun Cato yaitu dirumah Pak Asmadi. Di rumah Pak Asmadi kami menanyakan tentang beberapa rumah warga yang di atas rumah terpasang banyak sekali tabir surya, dan rata-rata setiap rumah memiliki satu. Pak Asmadi mengatakan bahwa tabir surya tersebut digunakan sebagai listrik untuk menerangi rumah warga ketika malam hari. Beberapa rumah sudah dipasang ada yang mendapat bantuan dari pemerintah daerah, dan ada juga yang memasang dengan biaya sendiri. Pak Asmadi juga menceritakan bahwa ketika malam hari udaranya sangat dingin karena ada kabut tetapi tidak terlalu tebal. Pemandangan juga terlihat ketika lampu-lampu kota di malam hari menyala, dari atas kita bisa menikmati dengan sangat indah.

 

Setelah dari rumah Pak Asmadi, kita melanjutkan perjalanan ke beberapa warga yang memiliki ternak lebah madu hutan. Tak sengaja kami bertemu dengan Bapak Abdurrahman, rumahnya tepat di depan rumah Bapak Kasun. Bapak Abdurrahman merupakan salah satu pemasok madu Pandawa yang dikelola oleh BumDes Kemuningan. Madu dari Dusun Cato terkenal akan kemurniannya, dan harga dari madu per kg tidak terlalu mahal jadi memang sudah jadi primadona madu asli dari Kemuningan ini.

Desa Kemuningan memiliki banyak cerita dan beberapa tempat yang harus anda kunjungi. Jika anda datang ke Desa Kemuningan,wajib sekali untuk mencicipi keindahan dari Dusun Cato.  Medan yang ekstrem dan keindahan di atasnya akan membayar semua lelah yang dilalui selama perjalanan. Sampai di atas kita juga dapat menikmati suguhan madu hutan asli Kemuningan.

Sedikit video tentang perjalanan ke Dusun Cato

 

Related posts

Leave a Comment