PENYULUHAN PENTINGNYA WAJIB BELAJAR 12 TAHUN DAN DAMPAK PERNIKAHAN DINI

Pada hari Rabu, 25 Juli 2018 pukul 15.30 telah dilaksanakan sosialisasi “Program Indonesia Pintar (PIP) Wajib Belajar 12 Tahun dan Dampak Pernikahan Dini”. Sosialisasi ini dihadiri oleh ibu – ibu rumah tangga yang memiliki anak usia sekolah dan anggota karang taruna. Acara ini bertempat di kediaman Bapak Sutapa selaku Kepala Desa Kemuningan. Sosialisasi ini diselenggarakan dikarenakan latar belakang pendidikan masyarakat di Desa Kemuningan belum melaksanakan wajib belajar 12 tahun. Remaja laki – laki yang tidak menuntaskan pendidikannya lantas bekerja serabutan, sedangkan remaja perempuan memutuskan untuk menikah.

Sosialisasi tersebut membahas pentingnya menuntaskan pendidikan hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) / Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Penting untuk memberi pengarahan kepada masyarakat untuk menyekolahkan anak – anak mereka hingga melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi untuk memenuhi hak anak sebagai generasi penerus bangsa. Selain itu, juga diadakan sesi tanya jawab seputar kendala yang dihadapi masyarakat selama menyekolahkan anak – anak mereka. Dorongan juga diberikan melalui informasi beasiswa yang banyak diberikan untuk anak – anak yang kurang beruntung ataupun yang berprestasi untuk meminimalisir siswa yang putus sekolah atau drop out (DO).

Pembahasan pada sosialisasi ini juga membahas tentang dampak pernikahan dini berupa dampak positif dan dampak negatif. Pernikahan dini memiliki dampak positif salah satunya yaitu menjauhkan anak dari pergaulan bebas tetapi disini kita juga memaparkan dampak negaitifnya yang justru lebih banyak berpengaruh. Dampak negatif dari pernikahan dini begitu banyak seperti dari segi kematangan mental dalam membina rumah tangga dan kesehatan reproduksinya. Selain itu, mahasiswa KKN juga memberikan semangat kepada para warga masyarakat yang hadir pada sore itu untuk selalu menyekolahkan anaknya walaupun mungkin berat. Dan memberikan gambaran terkait dampak negatif pernikahan dini agar para masyarakat di desa Kemuningan lebih terbuka pemikirannya tentang pernikahan.

Related posts

Leave a Comment